Minggu, 18 November 2012 0 komentar

Ibu memiliki satu mata


Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya, ia adalah sebuah hal yang memalukan. Ibuku menjalankan sebuah toko kecil pada sebuah pasar.
Dia mengumpulkan barang-barang bekas dan sejenisnya untuk dijual, apapun untuk mendapatkan uang yang kami butuhkan. Ia adalah sebuah hal yang memalukan.
Pada suatu hari di sekolah. Aku ingat saat itu hari ketika ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia melakukan hal ini kepadaku? Aku melemparkan muka dengan rasa benci dan berlari. Keesokan harinya di sekolah.. “Ibumu hanya memiliki satu mata?” dan mereka semua mengejekku.
Aku berharap ibuku hilang dari dunia ini maka aku berkata kepada ibu aku,”Ibu, kenapa kamu tidak memiliki mata lainnya? Ibu hanya akan menjadi bahan tertawaan. Kenapa Ibu tidak mati saja?” Ibu tidak menjawab. Aku merasa sedikit buruk, tetapi pada waktu yang sama, rasanya sangat baik bahwa aku telah mengatakan apa yang telah ingin aku katakan selama ini.
Mungkin itu karena ibu tidak menghukum aku, tetapi aku tidak berpikir bahwa aku telah sangat melukai perasaannya.
Malam itu, Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku menangis disana, dengan pelan, seakan ia takut bahwa ia akan membangunkanku. Aku melihatnya, dan pergi. Karena perkataanku sebelumnya kepadanya, ada sesuatu yang mencubit hati aku.

Meskipun begitu, Aku membenci ibuku yang menangis dari satu matanya. Jadi, Aku mengatakan diri ku jikalau aku akan tumbuh dewasa dan menjadi sukses, karena aku membenci ibu bermata-satu aku dan kemiskinan kami.
Lalu aku belajar dengan keras. aku meninggalkan ibu dan ke Seoul untuk belajar, dan diterima di Universitas Seoul dengan segala kepercayaan diri. Lalu, aku menikah. aku membeli rumah milikku sendiri. Lalu aku memiliki anak-anak juga. Sekarang, aku hidup bahagia sebagai seorang pria yang sukses. aku menyukainya disini karena ini adalah tempat yang tidak meningatkan aku akan ibu.
Kebahagiaan ini menjadi besar dan semakin besar, ketika seseorang tidak terduga menjumpai aku “Apa?! Siapa ini?”… Ini adalah ibu aku.. tetap dengan satu matanya. Ini rasanya seperti seluruh langit sedang jatuh ke diri aku. Anak perempuan aku lari kabur, takut akan mata ibu aku.
Dan aku bertanya kepadanya, “Siapa Anda? aku tidak mengenalmu!!” sandiwara aku. aku berteriak kepadanya “Mengapa engkau berani datang ke rumah aku dan menakuti anak aku! Pergi dari sini sekarang juga!”
Dan ibu dengan pelan menjawab, “Oh, maafkan aku. aku pasti salah alamat,” dan dia menghilang. Terima kasih Tuhan.. Ia tidak mengenali aku. aku merasa cukup lega. aku mengatakan kepada diri aku bahwa aku tidak akan peduli, atau berpikir tentang ini sepanjang sisa hidup aku.
Lalu ada perasaan lega datang kepada aku.. Suatu hari, sebuah surat mengenai reuni sekolah datang ke rumah aku. aku berbohong kepada istri aku mengatakan bahwa aku akan pergi perjalanan bisnis. Setelah reuni ini, aku pergi ke rumah lama aku.. karena rasa penasaran saja, aku menemukan ibu aku terjatuh di tanah yang dingin. Tetapi aku tidak meneteskan satu air mata sekalipun. Ia memiliki sepotong kertas di tangannya.. dan itu adalah surat untuk diri aku.
=================================================
Anakku,
Aku pikir hidupku sudah cukup lama saat ini. Dan.. aku tidak akan mengunjungi Seoul lagi.. tetapi apakah itu terlau banyak jikalau aku ingin kamu untuk datang menunjungiku sekali-kali nak? aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat lega ketika mendengar kamu akan datang dalam reuni ini.
Tetapi aku memutuskan untuk tidak datang ke sekolah.. Untuk Kamu.. aku meminta maaf jikalau aku hanya memiliki satu mata dan aku hanya membawa kemaluan bagi dirimu.
Kamu tahu, ketika kamu masih sangat kecil, kamu terkena sebuah kecelakaan, dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak tahan melihatmu harus tumbuh dengan hanya satu mata.. maka aku memberikanmu mata aku.. aku sangat bangga kepada anak aku yang melihat dunia yang baru untuk aku, menggantikan aku, dengan mata itu.
Aku tidak pernah marah kepadamu atas apapun yang kamu lakukan. Beberapa kali ketika kamu marah kepada aku. aku berpikir sendiri,”Ini karena kamu mencintai aku.” Aku rindu waktu ketika kamu masih sangat kecil dan berada di sekitarku.
Aku sangat merindukanmu. Aku mencintaimu. Kamu adalah duniaku.

Rabu, 14 November 2012 0 komentar

Jadilah Pelita

ada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.
Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.”
Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.”
Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.
Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!”
Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta.
Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!”
Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!”
Si buta tertegun..
Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.”
Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.”
Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.
Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita.
Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah pelita saya padam?”
Penabraknya menjawab, “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.”
Senyap sejenak.
secara berbarengan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta?”
Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya.,” sembari meledak dalam tawa.
Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.
Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta.
Timbul pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.”
Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).
Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.
Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.
Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.
Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.
Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.
Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.
Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.
Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.
0 komentar

Lenka - EveryThingAtOnce [TankMan Vip] - 2012

Lenka - EveryThingAtOnce [TankMan Vip] - 2012
0 komentar

MENULIS KEHIDUPAN



Aku tak minta berjalan dijalan setapak yang mulus, atau memikul beban yang ringan. Aku berdoa minta kekuatan dan ketabahan untuk mendaki jalan yang bertaburan batu karang. Berilah aku keberanuan sehingga aku bisa memanjat kepuncak yang paling sulit sendirian, dan mengubah setiap balok sandungan menjadi batu pijakan (Gail Brook)

Seorang wanita muda yang tengah berlatih balet datang pada seorang pelatih balet. Dia mengatakan, “ saya ingin menjadi penari balet yang hebat, tetapi saya tidak tahu apakah saya mempunyai bakat yang cukup?”
“Cobalah menari didepanku,” jawab sang duru. Dan tidak lama setelah wanita muda itu menunjukan tariannya, sang guru menggeleng-gelengkan kepala. “tidak, tidak,” katanya. “kamu tidak mempunyai bakat yang diperlukan.”
Wanita muda ini kembali kerumah dengan putus asa. Ia membuang sepatu baletnya ke keranjang sampah dan tak mau memakainya lagi. Tak lama kemudian ia menikah, melahirkan beberapa anak, dan saat anak-anaknua sudah cukup besar, ia ingin bekerja paruh waktu sebagai kasir ditoko terdekat.
Beberapa tahun setelah itu, ketika mengantar anak-anaknya sendiri berlatih balet, dia kembali bertemu dengan guru yang dahulu pernah ditemuinya. Dia menyapa guru itu. Katanya, “ada satuhal yang selalu mengganggu pikiran saya selama ini. Bagaimana anda bisa tahu begitu cepat kalau saya tidak mempunyai bakat yang diperlukan untuk menjadi penari balet?”
“oh ya?” Guru itu menatap si wanita. “rasanya waktu itu saya tidak melihat dengan seksama waktu kau menari. Saya hanya memberika jawaban apa yang ada di kepala saya.”
“tapi....tapi itu tidak terpuji!” wanita muda itu menangis terisak-isak. “anda telah menghancurkan hidup saya! Kalau saja anda mengatakan itu, mungkin saat ini saya telah menjadi seorang penari yang hebat!”
Guru itu menggelengkan kepalanya. “ tidak, tidak, saya tidak setuju. Kalau memang kamu mempunyai bakat yang diperlukan, tentu kamu tidak akan memepedulikan apa yang saya katakan!”
Ketika dilahirkan didunia, setiap orang diberi selembar kertas kosong untuk menulis apa saja. Sebagian orang menulis banyak, sebagian yang lain menulis sedikit saja, sedangkan yang sebagia lagi hanya menyuruh orang lain menuliskan untuk mereka. Siapa yang salah......?

0 komentar

½ True Story

½ True Story

Bagian pertama dari keputusan yang berhasil adalah membuat keputusan itu. Tindakan membuat suatu keputusan hampir selalu lebih penting daripada hakikat keputusan itu sendiri. Sebaliknya, tidak membuat keputusan akan membuat semua pilihan tidak berlaku lagi karena tindakan itu melumpuhkan kita. (Bob Urichuck)
Dua ekor katak tercebur kedalam ember berisi susu. Mereka pun kemudian mencoba berenang agar tak tenggelam. Tapi usaha mereka sia-sia karena mereka tak juga bisa keluar dari ember susu itu. Kata yang pertma menyerah, dia menyilangkan kaki pada badannya, lalu tenggelam dan mati. Sedangkan katak yang kedua tak putus ada. Dia terus berenang, hingga merasakan bahwa susu dalam ember itu perlahan-lahan menjadi padat. Maka dia pun terus berengang meski tak juga bisa keluar dari ember. Sampai akhirnya susu dalam ember itu berubah padat menjadi keju, dan si katak yang pantang menyerah iru pun keluar dari dalam ember.
Pemenang terus bergerak dan bertahan dalam kesulitan, pecundang memilih menyerah dan dikalahkan oleh kesulitan.
Dua ekor kambing jatuh kedalam lubang yang cukup dalam, dan mereka kesulitan untuk bisa keluar dari situ. Sialnya lagi tanah diatas mereka kemudian longsor dan jatuh menimbun kedalam lubang tempat mereka terperangkap. Seekor diantara mereka langsung membaringkan tubuhnya dengan pasrah dan bersiap-siap untuk terkubur dalam longsoran tanah. Dia merasa tidak ada gunanyauntuk melawan. Maka tak lama kemudian kambing pertama pun terkubur dalam tanah dan mati kehabisan napas. Kambing kedua berbeda. Dia tak langsung menyerah seperti kawannya. Ketika longsoran tanah dari atas menimbun lubang itu, sia pun mengibas-ngibas tubuhnya hingga tanah berjatuhan dari punggungnya. Semakin lama, tanah tempatnya berpijak semakin tinggi. Sampai kemudian, ketika lubang itu hampir tertutup semua dengan tanah, kambing yang tak menyerah ini pun bisa keluar dengan gampang.
Kaum pesimis melihat kesulitan dalam setiap kesempatan, sementara kaum optimis melihat kesempatan dalam kesulitan.
Dua orang laki-laki duduk dibangku taman memandangi seekor tupai melompat dari sebatang pohon yang tinggi ke pohon lainnya. Tupai rupanya akan mencapai ranting yang terlalu jauh dari jangkauannya sehingga lompatan itu kelihatan seperti bunuh diri. Tupai akan meleset, tetapi selalu bisa mendarat dengan selamat di cabang lain di bawahnya, kemudian tupai memanjat ke ranting yang menjadi tujuannya dan tampak merasa puas;
Laki-laki yang tua berkata kepada laki-laki yang muda,”saya sudah melihat banyak tupai melompat seperti itu, terutama kalau ada binatang pemangsa didekatnya, dan mereka tidak pernah jatuh ketanah. Banyak diantara mereka yang meleset mencapai ranting yang ditujunya, tetapi saya belum pernah melihat ada tupai yang celaka dalam mencobanya.” Kemudian dia tertawa dan berkomentar,”saya rasa mereka paling tidak harus mengambil satu resiko atau mereka akan tetap berada di sebatang pohon seumur hidup.”
Setelah pengalaman itu, setiap kali laki-laki muda ini harus memilih antara mengambil resiko dalam situasi baru atau tetap bertahan, dia membayangkan laki-laki tua dibangku taman yang mengatakan, “mereka harus mengambil resiko kalau tidak ingin seumur hidupnya disebatang pohon saja.” Laki-laki yang lebih muda ini memikirkan dirinya...kalau seekor tupai saja berani mengambil resiko...apakah saya kalah berani dengan seekor tupai...?

0 komentar

Beautiful Mind

Beautiful Mind

Mereka yang seringkali memperoleh kesempatan dan nasib untung adalah mereka yang lingkungan komunikasinya luas dan menyenangkan (Stephen Bareet)
Banyak orang bertanya tentang bagaimana cara agar bisa memiliki kawan yang banyak. Siapapun menyadari bahwa kehidupan ini terasa menjadi lebih indah karena banyaknya orang lain yang mengelilingi hidup kita. Tetapi banyak orang yang kemudian menjadi gagal dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Terkadang mereka merasa telah memberikan yang terbaik untuk orang lain demi sebuah hubungan, tetapi tanpa mereka sadari, mereka terkadang justru menjauhkan orang lain dari dirinya sendiri.
Kebanyakan dari kita selalu berusaha untuk membuat oang lain tertarik pada kita. Ini dilakukan oleh banyak orang karena mereka pikir apabila mereka bisa terlihat menarik, maka orang pun akan berdatangan kepadanya. Ini pemikiran yang keliru tetapi telah dianggap benar; karena sesungguhnya, apabila kira semakin berusaha membuat orang lain tertarik, maka kita akan nampak semakin memuakkan dimata orang lain, dan mereka justru akan semakin menjauhi kita.
Seorang yang pintar barangkali cukup menarik bagi orang lain. Tetapi bila orang lain tertarik kepadanya dengan cara berusaha menonjol-nonjolkan kepintarannya, maka orang lain justru akan berbalik dan merasa muak kepadanya. Perempuan yang cantik mungkin memiliki daya tarik yang kuar, tetapi jika perempuan cantik ini berusaha membuat orang lain tertarik kepadanya dengan jalan mengeksploitasi kecantikan dirinya, maka dia akan menjadi sangat memuakkan.
salah satu jalan paling mulus untuk bisa menjalin hubungna baik dengan orang lain adalah dengan cara menjadi sosok yang kelihatan biasa-biasa saja. Jangan pernah takut keistimewaanmu akan hilang kalau kau tak memperlihatkannya, karena apabila kau memang istimewa, maka serapat apapun kau menutupinya, suatu saat orang lain pasti akan tahu keistimewaanmu, dan pada saat itu, mereka justru akan semakin mendekat kepadamu.
Sebaliknya, jika kamu seongok bangkai, secantik apapun kau menutupi bau busukmu, seindah apapun kau memoles dirimu, orang lain tetap saja akan menjauhimu. Dan satu hal yang jelas adalah, cendrawasih yang indah tak pernah berteriak-teriak bahwa dirinya cendrawasih, tetapi beo yang jelek dan kampungan selalu berceloteh tentang apa saja untuk mencari perhatian.
Henry dan Dana lee thomas menulis sebuah buku berjudul living Biographies od Religious Leaders, yang mengungkapkan kehidupan filsuf besar confucius. Mereka menyatakan komentar berupa pujian untuk filsuf ini dengan kata-kata berikut, “Dia tofak pernah mencoba untuk membuat mata orang lain silau karena pengetahuannya yang menyeluruh. Ia hanyalah mencoba untuk menerangi orang lain dengan kerendahan hatinya.” Confucius memahami bahwa apabila dia memilih menjdai menara gading, orang memang akan mengagumi, tetapi tidak akan mendekati. Karena itulah kemudian dia lebih memilih menjadi kerang yang menyimpan mutiara dalam tubuhnya. Dia hebat dan bernilai tinggi, tetapi orang lain tak akan sungkan untuk mendekat. Itu pula yang kemudian dinasehatkan oleh Aristoteles, “Berpikirlah seperti yang dilakukan oleh orang bijaksana, tapi bicaralah seperti yang dilakukan oleh orang-orang kebanyakan.”
Dalam salah satu essainya, james R.Fisher,Jr menulis tujuh belas hal yang harus kita lakukan untuk bisa melakukan hubungan baik dengan orang lain. Diantara tujuh belas itu, ada delapan hal yang sangat penting untuk direnungkan, pertama, “untuk memiliki teman, kamu harus menjadi seorang teman. Mulailah dengan menjadi teman bagi dirimu sendiri.” Kedua,”Keinginan terbesar dalam diri seseorang adalah menjadi orang yang dibutuhkan. Bantulah menciptakan perasaan dibutuhkan itu dalam diri orang lain.”ketiga,”Kebajikan terbesar adalah kebaikan hati. Kamu tidak mungkin mencintai setiap orang, tetapi kamu dapat berbaik hati kepada setiap orang .”keempat,”Jangan mencoba untuk mengesankan orang lain. Biarkan orang lain senang membuatmu terkesan.” Kelima,”kamu memberi pengaruh besar terhadap orang lain melalui caramu mendengarkan, bukan dari caramu berbicara.” Keenam,” Gunjingan merendahkan orang lain uang menciptakannya daripada orang yang menjadi sasaran gunjingan.”ketujuh, “jika kamu memperolok seseorang, pastikan bahwa dirimulah yang kamu perolok.” Kedelapan, “Tuluslah dalam memperhatikan sesama, ajak mereka bicara tetang diri mereka.”
Cobalah delapan hal ini dalam setiap kesempatan bersama orang lain, dan lihatlah...duniamu akan terasa lebih indah karena begitu banyak orang yang akan suka dekat denganmu, dan mereka akan menjadi sahabat-sahabat baik yang akan mengelilingi kehidupanmu.

 
;